Minggu, 04 Desember 2011

Jangan benci aku, Mama......


http://static.wix.com/media/7077b67d81205be43a88800571258ba9.wix_mp
Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak lelaki, wajahnya agak tampan namun kelihatan agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya nama Erik
Semakin lama semakin nampak jelas bahawa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain sahaja atau diletakkan di pusat asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.

Namun suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan terpaksa kubesarkan juga. Di tahun kedua setelah Erik dilahirkan, akupun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik molek. 
Kuberi nama Angel. Aku sangat menyayangi Angel, demikian juga suamiku. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Erik. Ia hanya memiliki beberapa pasang pakaian lama. Suamiku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikannya, namun aku selalu melarangnya dengan dalih menjimatkan wang keluarga. Suamiku selalu menuruti perkataanku.

Semasa usia Angel 2 tahun, Suamiku meninggal dunia. Erik sudah berumur 4 tahun pada masa itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin bertambah. 
Akhirnya aku mengambil sebuah tindakan yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Aku pergi meninggalkan kampung kelahiranku bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap kutinggalkan begitu saja.

Kemudian aku memilih tinggal di sebuah rumah kecil setelah tanah kami berjaya dijual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.......... telah berlalu sejak kejadian itu.

Kini Aku telah berkahwin kembali dengan Beni, seorang lelaki dewasa yang stabil hidupnya. Usia perkahwinan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Beni, sifat-sifat burukku yang dulunya pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.

Angel kini telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkannya di asrama perempuan sekolah jururawat. Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik dan tidak ada lagi yang mengingatnya. 
Sehinggalah suatu malam. Malam di mana aku bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arahku. Sambil tersenyum ia berkata, "Mak Cik, Mak Cik kenal mama caya? caya lindu cekali cama Mama!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun aku menahannya,
"Tunggu..., sepertinya saya kenak akan kamu. Siapa namamu anak manis?"
"Nama caya Elik, Tante."
"Erik? Erik... Ya Tuhan! Kau benar-benar Erik?"

Aku terus tersentak bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpaku saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu, seperti sebuah filem yang sedang diputar di kepala. 
Baru sekarang aku menyedari betapa jahatnya perbuatanku dulu. Rasanya seperti mahu mati saja saat itu.

Ya, sepertinya saya memang patut mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Erik melintas kembali di fikiranku. Ya Erik, Mama akan menjemputmu Erik...sabar ya nak...."

Petang itu aku memandu kereta biruku dan meletakkan di samping sebuah pondok, dan Beni suamiku dengan pandangan hairan menatapku dari sisi. "Maryam, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, suamiku, kau pasti akan membenciku setelah kuceritakan hal yang telah kulakukan dulu." tetapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.

Ternyata Tuhan sungguh baik kepadaku. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangisku reda, aku pun keluar dari kereta diikuti oleh suami dari belakang. 
Mataku menatap lekat pada pondok yang terbentang dua meter di hadapan. Aku mulai teringat betapa pondok itu pernah kutempati beberapa tahun lamanya dan Erik..... Erik......

Aku meninggalkan Erik di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih aku pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun aku tidak menemui sesiapa pun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain lama bergelimpangan  di lantai tanah. Aku mengambil lalu mengamatinya dengan teliti... Mataku mulai berkaca-kaca, aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju lama yang dulu dikenakan Erik sehari-hari, baju lama yang kadang aku sendiri jijik mencucinya......

Beberapa ketika kemudian, dengan perasaan yang sukar digambarkan, aku pun keluar dari ruangan itu... Air mataku mengalir dengan deras. Semasa itu aku hanya diam saja. Tidak lama kemudian aku dan suami mulai menaiki kereta untuk meninggalkan tempat tersebut. 
Namun, tiba - tiba aku melihat seseorang di belakang kereta kami. Aku agak hairan sebab suasana semasa itu gelap sekali. Kemudian kelihatan wajah orang itu yang demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali aku tersentak hairan apabila ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
"Heii...! Siapa kamu?! Mahuu apa kau ke sini?!"

Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, "Ibu, ibu kenal dengan seorang anak bernama Erik yang dulu tinggal di sini?"

Tiba - tiba Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Erik terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mamaaa..., Mamaaa!'

Kerana tidak tahan melihatnya, saya kadang-kadang memberinya makan dan akhirnya mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pengutip sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! 
Tiga bulan yang lalu Erik meninggalkan sekeping kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu....."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu...
"Mama, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi...? Mama benci ya pada Erik? Ma...., biarlah Erik yang pergi sahaja, tapi Mama harus berjanji ya, kalau Mama tidak akan benci lagi pada Eric. Udah dulu ya Ma, Erik sayaaaang sama Mama, ......"

Aku menjerit histeria membaca surat itu. "Bu, tolong beritahu... beritahu di mana ia sekarang? Aku berjanji akan meyayanginya sekarang! Aku tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong beritahu..!!" Suamiku memeluk tubuhku yang bergetar sangat kuat.

"Puan, semua sudah terlambat. Sehari sebelum puan datang, Erik telah meninggalkan dunia. Ia meninggal betul-betul di belakang pondok ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. 
Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang pondok ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mama-nya datang, Mama-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana ...

Ia hanya berharap dapat melihat Mamanya dari belakang pondok ini... Meskipun hujan lebat, dengan keadaannya yang lemah ia terus berkeras menunggu puan di sana. Puan, dosa anda sangat besar!"

Aku kemudian pengsan dan tidak ingat apa-apa lagi.Situslakalaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Post